SEJARAH DUNIA INDUSTRI
SOFTSKILL KEWIRAUSAHAAN
Nama :
Alfi Nugroho
NPM :
30412604
Kelas :
4ID08
Mata Kuliah :
SOFTSKILL KEWIRAUSAHAAN
LATAR BELAKANG
Akar
intelektual kebijakan industrialisasi yang dikendalikan negara dimulai pada
abad ke-19. Antusiasme terhadap usulan–usulan untuk industrialisasi selanjutnya
melanda Jepang dan dunia Barat, yang mendorong seorang ahli ekonomi mengatakan
bahwa apa yang semula tidak lebih dari tujuan kebijakan telah berubah menjadi
“ideologi independensi ekonomi”, yang menghendaki “peningkatan posisi negara
serta titik berat pada industrialisasi sebagai wahana bagi integrasi nasional”
(Claire, 1980;139). Indonesia, sebagai mata rantai negara berkembang, juga
tidak luput terkena demam industrialisasi tersebut. Semenjak pembangunan
ekonomi dimulai secara terencana sejak tahun 1969, sesungguhnya pendekatan yang
digunakan Indonesia adalah strategi industrialisasi.
Makna praktis
industrialisasi adalah memajukan tenaga produktif menjadi lebih modern, dapat
diakses secara massal, dan tinggi kualitas. Tanpa kemajuan tenaga produktif,
negeri ini tidak akan punya ketahanan ekonomi menghadapi gempuran neo-liberalisme.
Tanpa ketahanan ekonomi, kedaulatan negeri ini - terutama kedaulatan rakyatnya
- berhenti sebatas cita-cita.
KONSEP INDUSTRIALISASI
Industrialisasi
adalah sistem produksi yang muncul dari pengembangan yang mantap penelitian dan
penggunaan pengetahuan ilmiah. Ia dilandasi oleh pembagian tenaga kerja dan
spesialisasi, menggunakan alat-alat bantu mekanik, kimiawi, mesin, dan
organisasi serta intelektual dalam produksi.
Industrialisasi
dalam arti sempit menggambarkan penggunaan secara luas sumber-sumber tenaga
non-hayati, dalam rangka produksi barang atau jasa. Meskipun definisi ini terasa
sangat membatasi industrialisasi tidak hanya terdapat pada pabrik atau
manufaktur, tapi juga bisa meliputi pertanian karena pertanian tidak bisa lepas
dari mekanisasi (pemakaian sumber tenaga non-hayati) demikian pula halnya
dengan transportasi dan komunikasi.
Industrialisasi merupakan proses peralihan dari satu bentuk
masyarakat tertentu, menuju masyarakat industrial modern. Wield (1983:80)
mengemukakan tiga jenis definisi untuk memahami industrialisasi antara lain:
1. Residual, industri berarti semua hal
yang bukan pertanian.
2. Sektoral, yang mengatakan bahwa
industri adalah energi, pertambangan, dan usaha manufaktur.
3. Bersifat mikro dan makro, yaitu
sebagai proses produksi, dan yang lebih luas lagi sebagai proses sosial
industrialisasi
Proses industrialisasi bisa dipahami melalui konsep
pembangunan, karena arti pembangunan dan industrialisasi seringkali dianggap
sama. Konsep pembangunan bersifat dinamik, karena konsep itu bisa berubah
menurut lingkupnya. Apabila pembangunan itu dihubungkan pada setiap usaha
pembangunan dunia, maka pembangunan akan merupakan usaha pembangunan dunia.
Industrialisasi sebagai proses dan pembangunan industri berada pada satu jalur
kegiatan, yaitu pada hakekatnya berfungsi meningkatkan kualitas hidup dan
kesejahteraan rakyat. Industrialisasi tidaklah terlepas dari upaya peningkatan
mutu sumber daya manusia, dan pemanfaatan sumber daya alam.
Secara umum kaitan antara pembangunan dengan industrialisasi
dijelaskan oleh Garna (1997:17-18), yakni:
1.
Bahan
untuk proses industrialisasi dan pembangunan industri merupakan satu jalur
kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
2.
Pembangunan
industri merupakan upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia dan kemampuan
memanfaatkan sumber daya alam.
3.
Pembangunan
industri akan memacu dan menyangkut pembangunan sektor lainnya, yang dapat
memperluas lapangan kerja yang diharapkan akan meningkatkan pendapatan dan daya
beli masyarakat.
4.
Dalam
pembangunan industri akan terjadi ketimpangan yang merugikan, yang bersifat
ekonomi ataupun non ekonomi.
Pembangunan itu senantiasa harus melalui lima tahapan yang
berkaitan satu sama lainnya yakni;
1. Masyarakat tradisional.
2. Prakondisi lepas landas.
3. Lepas landas.
4. Bergerak ke kedewasaan.
5. Zaman konsumsi masal yang tinggi.
Prasyarat untuk bisa menuju perkembangan ekonomi adalah
tahapan kedua, yang ciri-ciri masyarakat tradisional sudah mulai berganti.
Dalam tahap kedua produktivitas pertanian meningkat pesat, munculnya mentalitas
baru dan juga kelas sosial baru – wiraswasta (Hagen, 1966). Tahap ketiga adalah
tahap yang kritis atau penting sekali guna pembangunan lebih lanjut. Di sinilah
munculnya industrialisasi, di mana beberapa sektor tertentu akan berperan dalam
menumbuhkan perekonomian. Tumin (dalam Lavner, 1989:430-431) melukiskan
jenis-jenis perubahan sistem stratifikasi sosial ketika masyarakat menuju
industrialisasi antara lain:
1. Pembagian kerja semakin rumit
sejalan dengan meningkatnya spesialisasi;
2. Status cenderung berdasarkan atas
prestasi sebagai pengganti status berdasarkan atas asal usul (ascription);
3. Alat yang memadai untuk mengukur
pelaksanaan pekerjaan orang yang terlibat dalam produksi menjadi perhatian
umum;
4. Pekerjaan bergeser dari kegiatan
yang memberikan kepuasan hakiki, keperanan sebagai alat untuk meningkatkan
kesejahteraan artinya, mendapat ganjaran itu sendiri;
5. Ganjaran yang tersedia untuk
didistribusikan meningkat;
6. Ganjaran didistribusikan atas dasar
yang agak lebih kecil;
7. Terjadi pergeseran dalam peluang
hidup di berbagai status sosial;
8. Terjadinya pergeseran dalam
distribusi gengsi sosial meskipun keuntungan masyarakat modern dibanding
masyarakat tradisional dan;
Pergeseran dan masalah serupa terdapat juga dalam distribusi
kekuasaan.
Huntington (1986:37),menjelaskan mengenai perubahan masyarakat tradisional ke masyarakat industri.
Huntington (1986:37),menjelaskan mengenai perubahan masyarakat tradisional ke masyarakat industri.
Ciri
masyarakat tradisional antara lain:
1.
Tidak
menjaga waktu
2.
Orientasi
pada masa lalu
3.
Status
terikat pada tempat asal
4.
Fanatik
5.
Tertutup
6.
Orientasi
status otomatis (ascriptive)
7.
Loyalitas
primordial seperti agama, golongan, suku, keluarga, organisasi keluarga atau
ikatan bersifat pribadi
8.
Bergantung pada nasib
9.
Hubungan
dengan alam penyesuaian
10. Kebudayaan ekspresif
Ciri masyarakat modern antara lain
1.
Menjaga
waktu
2.
Orientasi
pada masa depan
3.
Dinamik,
mobilitas
4.
Toleran
5.
Terbuka
6.
Orientasi
status berdasarkan prestasi (achievement)
7.
Loyalitas
pelingkup (negara, kedinasan dan profesi)
8.
Organisasi
non pribadi (ikatan kepentingan, atau berorientasi tujuan),
9.
Organisasi
besar atau efisiensi
10.
Hubungan
non pribadi atas dasar masalah (lugas)
11.
Persoalan
ditimbulkan manusia dapat diatasi oleh manusia
12.
Hubungan
dengan alam menguasai atau setidak-tidaknya mengatur
Kebudayaan progresif Secara rinci disebutkan bahwa ciri-ciri
orang modern menurut Inkeles (1973:342) antara lain:
1. Terbuka pada pengalaman baru;
2. Peningkatan kemandirian dan otoritas
figur tradisional.
3. Kepercayaan terhadap kualitas ilmu
pengetahuan dan pengobatan.
4. Memiliki ambisi untuk dirinya
sendiri maupun anak-anaknya untuk mencapai pekerjaan dan pendidikan yang
tinggi.
5. Menyukai kecepatan waktu dan
perencanaan dan hati-hati.
6. Menunjukkan minat yang kuat dalam
kegiatan komunitas dan politik lokal, serta berperan aktif.
7. Selalu mengikuti berita-berita
hangat.

UNSUR-UNSUR INDUSTRIALISASI
(1) Masyarakat yang
melakukan proses produksi dengan menggunakan mesin;
(2) Berskala besar;
(3) Pembagian kerja
teknis yang relatif kompleks; dan
(4) Menggunakan tenaga kerja yang keterampilannya
bermacam-macam.
Industrialisasi pada suatu
masyarakat berarti pergantian teknik produksi dari cara yang masih tradisional
ke cara modern, yang terkandung dalam revolusi industri. Dalam hal ini terjadi
proses transformasi, yaitu suatu perubahan masyarakat dalam segala segi
kehidupannya (Dharmawan).
DAMPAK PERMASALAHAN DI DUNIA INDUSTRI
a. Sosial
- Kelas,
Gender, dan Konsumsi
Posisi
sosial telah membuat perbedaan yang besar mengenai bagaimana individu dapat
termasuk kedalam budaya konsumerisme, oleh karenanya menjadi penting untuk
memahami signifikansi dari kelas dan gender. Produsen amat bergantung kepada
daya beli konsemen demi kelangsungan usaha mereka. Daniel Bell menyatakan bahwa
konsumsi masyarakat bangkit pada awal 1920-an, selanjutnya pengembangan ini
diatribusikan pada revolusi teknologi dan pada tiga penemuan sosial, yakni
produksi lini gabungan, pengembangan pasar, dan penyebaran pembelian. Berikutnya
adalah terjadinya pergeseran nilai moral, yakni bagaimana angsuran yang semula
identik dengan kaum miskin dan hutang kemudian bertransformasi menjadi kredit
yang dapat diterima masyarakat.
Selanjutnya
Victoria de Grazia dalam The Sex of Thing (1996) mengungkapkan bagaimana
konsumsi difilterisasi oleh rumah tangga. Ia melihat bahwa
pengalaman-pengalaman dalam rumah tangga membawa dampak yang kompleks ketika
kelas dan gender mendorong terjadinya konsumsi. Selain itu de Grazia melihat
bagaimana posisi status digabungkan dengan kelas dan gender terkadang merupakan
konfigurasi ulang dibawah rezim baru budaya konsumsi. Semenjak revolusi
industri, para wanita dalam perannya di keluarga menjadi lebih condong kepada
aktifitas konsumsi, de Grazia menyatakan bahwa konsumsi secara fundamental
digenderkan pada wanita.
- Konsumsi
dan Globalisasi
Revolusi
konsumsi yang semula terjadi di dunia Barat akhirnya menyebar ke penjuru dunia
yang lain. Hal ini dikarenakan antara lain oleh pemahaman masyarakat terhadap
budaya konsumen dominan yang meningkat, selain itu mereka menjadi ajang
kepentingan transisi barat akan kapitalisme konsumen massa.
Negara-negara
di Asia Timur dan Asia Tenggara mengalami pertumbuahan ekonomi yang pesat dan
bermula pada awal 1960-an. Dalam kasus Korea Selatan, dapat dilihat adanya
perbedaan pandangan antar generasi terhadap konsumerisme. Sedangkan Indonesia,
dikarenakan tingkat perkembangan yang lambat, membuang sisi simbolis dari
konsumsi kedalam bentuk yang lebih jelas. Solvay Gerke melihat bagaimana
keterbatasan kemampuan pada kelas menengah untuk melakukan konsumsi dalam
bentuk yang dapat dilihat dari status yang ditunjukkan. Gerke melihat bagaimana
gaya hidup dan simbol-simbol mempengaruhi aktifitas mereka. Dengan gaya hidup
tersebut, mereka menafikan asumsi sosial dan ekonomi mereka.
b. Psikologis
Industri
secara langsung maupun tidak langsung akan membentuk suatu peranan yang
dimainkan oleh para pelaku industrialisasi, baik fisik maupun psikisnya. Dengan
adanya industrialisasi kehidupan di masyarakat berkembang dalam segala aspek
kehidupan baik ekonomi maupun sosialnya, karena terciptanya berbagai
kemudahan-kemudahan yang di peroleh menuju perubahan hidup yang cenderung ke
arah modernisasi, maka tidak heran jika banyak terjadi perubahan pola kehidupan
antara jaman dulu dan sekarang.
Dengan
adanya fenomena itu juga akan berpengaruh terhadap kondisi psikologis. Apalagi dalam
peristiwa industrialisasi ini, semakin banyak perusahaan perindustrian yang
didirikan, yang memperkerjakan tenaga kerja yang tidak sedikit jumlahnya, dan
intensitas waktu kerja yang lama, seolah tidak pernah tidur.
Hal
ini bila dikaitkan dengan dampak psikologis akan sangat berhubungan, dilihat
dari banyaknya karyawan yang ada dalam suatu perindustrian, seolah-olah waktu
hanya dihabiskan di dalam pabrik. dampak yang akan terjadi adalah pada keadaan
psikologis keluarga, terutama pada anak, yang seharusnya mendapatkan perhatian
yang lebih tetapi karena waktu yang sangat sedikit untuk berkumpul di rumah, sedikit
banyak akan mempengaruhi kepribadian keluarga terutama anak.
Dalam
jaman perindustrian sekarang ini sadar atau tidak akan berpengaruh pada
pergeseran nilai-nilai dan membuat masyarakat sekarang kurang peduli dengan
itu, karena tersitanya waktu untuk bekerja untuk menyempatkan berkegiatan
pemupukan nilai-nilai yang ada, akibatnya masyarakat lupa dan bersikap acuh tak
acuh dalam kalangan masyarakat perindustrian.
c. Hukum
Keengganan pemerintah melakukan
intervensi langsung ke dalam kegiatan industri mirip dengan keengganan
yudikatif untuk melibatkan diri secara langsung ke dalam lapangan industri.
Wedderborn (1966, hal 13) menyatakan bahwa pihak hukum baru mau melibatkan diri
jika pihak perusahaan berbuat suatu tindakan, dimana pihak lain di luar perusahaan
merasa dirugikan oleh tindakan tersebut. Alasan lain yang menyebabkan
keengganan pihak hukum melibatkan diri adalah telah terbentuknya suatu
perjanjian bersama antara perusahaan industri dengan serikat-serikat buruh
sehingga kalau ada permasalahan diantara mereka hal itu akan diselesaikan
dengan cara-cara yang tercantum dalam perjanjian tersebut.
d. Ekonomi
Perkembangan dalam sektor industri telah berkembang
pesat dan telah mengubah sebagian besar kehidupan kita, telah terjadi banyak
perubahan dalam kehidupan kota, sistem komunikasi dan transportasi dan
munculnya berbagai barang konsumsi yang menambah kenyamanan hidup,
Tetapi tidak selamanya, industrialisasi menyebabkan
banyak kenyamanan dan kesejahteraan hidup, seperti dinyatakan oleh Ine Minara
mengingatkan bahwa industrialisasi yang berjalan dengan baik dapat memberi
stimulasi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Kalau kita lihat kondisi
sekarang, meningkatnya peran sektor industri dan sektor lain dalam P D B
(Product Distribution Bruto) diikuti dengan menurunnya peran, kualitas maupun
produktivitas sektor pertanian. Maka industrialisasi tidak dapat dikatakan
berhasil ketika kegagalan justru tergantung akan menyebabkan pasokan pangan
bagi penduduk kota terjadi karena hal tersebut. Jika produktivitas pangan
rendah dan kebutuhan pangan sendiri tidak dapat terpenuhi, dan bergantung pada
impor, jelas hal ini menyebabkan tingkat
pertumbuhan rendah atau pertumbuhan
tidak berkualitas. Apabila suatu negara mengimpor kebutuhan pangannya dalam
memenuhi kebutuhan masyarakat, maka pendapatan perkapita yang meningkat di
negara tersebut akibat dari industrialisasi, maka akan terjadi multiplier efect
di luar, bukan di wilayah perekonomian negara tersebut, sehingga peningkatan
pendapatan dan produktivitas justru digunakan untuk membiayai impor pertanian.
Industrialisasi
yang berhasil mensyaratkan adanya kenaikan yang signifikan dari produktivitas
pertanian. Satu kesalahan besar dari proses industrialisasi di Indonesia adalah
bahwa sektor pertanian ditinggalkan yang menyebabkan produktivitas sektor
pertanian rendah. Secara konsep memang disebutkan bahwa pembangunan industri
ditopang oleh pembangunan pertanian. Meskipun pernah mencapai swasembada beras
akan tetapi akses dari kebijakan dalam rangka mencapai swasembada beras
tersebut mengorbankan banyak hal dan sektor pertanian tumbuh tidak kokoh dan
produksi pertanian tidak cukup untuk memasok kebutuhan pangan. Selain itu,
hasil pertanian lain di luar beras yang dibutuhkan oleh sektor industri masih diimpor
seperti kedelai, jagung dan lain sebagainya. Di sisi lain hasil pertanian
Indonesia dalam bentuk komoditas seperti CPO, kakau, masih diekspor dalam
bentuk yang mentah atau tidak diolah. Dalam sisi industrialisasi hal tersebut
adalah kemunduran, sebab industrialisasi yang maju mensyaratkan ekspor pangan
olahan.
Jadi perkembangan industrialisasi
dalam bidang ekonomi sering kali tidak diimbangi dengan perkembangan produksi
pangan Negara, sehingga hasil keuntungan dari kegiatan industri sering kali
digunakan untuk membiayai impor bahan pangan Negara, karena hasil pertanian
pangan menjadi rendah.

e. Demografi
Kependudukan atau demografi adalah ilmu
yang mempelajari dinamika kependudukan manusia.
Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana
jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta
penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau
kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan,
kewarganegaraan,
agama,
atau etnisitas tertentu. (wikipedia).
Munculnya
kawasan industri dalam suatu wilayah dianggap membawa faktor positif dan
negatif bagi kehidupan masyarakat di wilayah itu.
Dampak positifnya antara lain :
1.
Kehadiran
industri dapat membuka lapangan kerja bagi penduduk setempat;
2.
Membuka
lapangan kerja di bidang sektor informal;
3.
Menambah
pendapatan asli daerah bagi daerah tersebut.
Adapun dampak negatifnya ialah:
1.
Menimbulkan
kebisingan, polusi, dan limbah industri yang berbahaya bagi lingkungan;
2.
Persentuhan
budaya yang bisa menimbulkan berbagai masalah sosial.