Senin, 11 Januari 2016

SEJARAH DUNIA INDUSTRI

SEJARAH DUNIA INDUSTRI
SOFTSKILL KEWIRAUSAHAAN


Nama                   : Alfi Nugroho
NPM                    : 30412604
Kelas                    : 4ID08
Mata Kuliah         : SOFTSKILL KEWIRAUSAHAAN



LATAR BELAKANG
Akar intelektual kebijakan industrialisasi yang dikendalikan negara dimulai pada abad ke-19. Antusiasme terhadap usulan–usulan untuk industrialisasi selanjutnya melanda Jepang dan dunia Barat, yang mendorong seorang ahli ekonomi mengatakan bahwa apa yang semula tidak lebih dari tujuan kebijakan telah berubah menjadi “ideologi independensi ekonomi”, yang menghendaki “peningkatan posisi negara serta titik berat pada industrialisasi sebagai wahana bagi integrasi nasional” (Claire, 1980;139). Indonesia, sebagai mata rantai negara berkembang, juga tidak luput terkena demam industrialisasi tersebut. Semenjak pembangunan ekonomi dimulai secara terencana sejak tahun 1969, sesungguhnya pendekatan yang digunakan Indonesia adalah strategi industrialisasi.
Makna praktis industrialisasi adalah memajukan tenaga produktif menjadi lebih modern, dapat diakses secara massal, dan tinggi kualitas. Tanpa kemajuan tenaga produktif, negeri ini tidak akan punya ketahanan ekonomi menghadapi gempuran neo-liberalisme. Tanpa ketahanan ekonomi, kedaulatan negeri ini - terutama kedaulatan rakyatnya - berhenti sebatas cita-cita.

KONSEP INDUSTRIALISASI
Industrialisasi adalah sistem produksi yang muncul dari pengembangan yang mantap penelitian dan penggunaan pengetahuan ilmiah. Ia dilandasi oleh pembagian tenaga kerja dan spesialisasi, menggunakan alat-alat bantu mekanik, kimiawi, mesin, dan organisasi serta intelektual dalam produksi.
Industrialisasi dalam arti sempit menggambarkan penggunaan secara luas sumber-sumber tenaga non-hayati, dalam rangka produksi barang atau jasa. Meskipun definisi ini terasa sangat membatasi industrialisasi tidak hanya terdapat pada pabrik atau manufaktur, tapi juga bisa meliputi pertanian karena pertanian tidak bisa lepas dari mekanisasi (pemakaian sumber tenaga non-hayati) demikian pula halnya dengan transportasi dan komunikasi.
Industrialisasi merupakan proses peralihan dari satu bentuk masyarakat tertentu, menuju masyarakat industrial modern. Wield (1983:80) mengemukakan tiga jenis definisi untuk memahami industrialisasi antara lain:
1.      Residual, industri berarti semua hal yang bukan pertanian.
2.      Sektoral, yang mengatakan bahwa industri adalah energi, pertambangan, dan usaha manufaktur.
3.      Bersifat mikro dan makro, yaitu sebagai proses produksi, dan yang lebih luas lagi sebagai proses sosial industrialisasi

Proses industrialisasi bisa dipahami melalui konsep pembangunan, karena arti pembangunan dan industrialisasi seringkali dianggap sama. Konsep pembangunan bersifat dinamik, karena konsep itu bisa berubah menurut lingkupnya. Apabila pembangunan itu dihubungkan pada setiap usaha pembangunan dunia, maka pembangunan akan merupakan usaha pembangunan dunia. Industrialisasi sebagai proses dan pembangunan industri berada pada satu jalur kegiatan, yaitu pada hakekatnya berfungsi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat. Industrialisasi tidaklah terlepas dari upaya peningkatan mutu sumber daya manusia, dan pemanfaatan sumber daya alam.
Secara umum kaitan antara pembangunan dengan industrialisasi dijelaskan oleh Garna (1997:17-18), yakni:
1.           Bahan untuk proses industrialisasi dan pembangunan industri merupakan satu jalur kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
2.           Pembangunan industri merupakan upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia dan kemampuan memanfaatkan sumber daya alam.
3.           Pembangunan industri akan memacu dan menyangkut pembangunan sektor lainnya, yang dapat memperluas lapangan kerja yang diharapkan akan meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat.
4.           Dalam pembangunan industri akan terjadi ketimpangan yang merugikan, yang bersifat ekonomi ataupun non ekonomi.

Pembangunan itu senantiasa harus melalui lima tahapan yang berkaitan satu sama lainnya yakni;
1.      Masyarakat tradisional.
2.      Prakondisi lepas landas.
3.      Lepas landas.
4.      Bergerak ke kedewasaan.
5.      Zaman konsumsi masal yang tinggi.

Prasyarat untuk bisa menuju perkembangan ekonomi adalah tahapan kedua, yang ciri-ciri masyarakat tradisional sudah mulai berganti. Dalam tahap kedua produktivitas pertanian meningkat pesat, munculnya mentalitas baru dan juga kelas sosial baru – wiraswasta (Hagen, 1966). Tahap ketiga adalah tahap yang kritis atau penting sekali guna pembangunan lebih lanjut. Di sinilah munculnya industrialisasi, di mana beberapa sektor tertentu akan berperan dalam menumbuhkan perekonomian. Tumin (dalam Lavner, 1989:430-431) melukiskan jenis-jenis perubahan sistem stratifikasi sosial ketika masyarakat menuju industrialisasi antara lain:
1.      Pembagian kerja semakin rumit sejalan dengan meningkatnya spesialisasi;
2.      Status cenderung berdasarkan atas prestasi sebagai pengganti status berdasarkan atas asal usul (ascription);
3.      Alat yang memadai untuk mengukur pelaksanaan pekerjaan orang yang terlibat dalam produksi menjadi perhatian umum;
4.      Pekerjaan bergeser dari kegiatan yang memberikan kepuasan hakiki, keperanan sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan artinya, mendapat ganjaran itu sendiri;
5.      Ganjaran yang tersedia untuk didistribusikan meningkat;
6.      Ganjaran didistribusikan atas dasar yang agak lebih kecil;
7.      Terjadi pergeseran dalam peluang hidup di berbagai status sosial;
8.      Terjadinya pergeseran dalam distribusi gengsi sosial meskipun keuntungan masyarakat modern dibanding masyarakat tradisional dan;

Pergeseran dan masalah serupa terdapat juga dalam distribusi kekuasaan.
Huntington (1986:37),menjelaskan mengenai perubahan  masyarakat tradisional ke masyarakat industri.
Ciri masyarakat tradisional antara lain:
1.        Tidak menjaga waktu
2.        Orientasi pada masa lalu
3.        Status terikat pada tempat asal
4.        Fanatik
5.        Tertutup
6.        Orientasi status otomatis (ascriptive)
7.        Loyalitas primordial seperti agama, golongan, suku, keluarga, organisasi keluarga atau ikatan bersifat pribadi
8.         Bergantung pada nasib
9.        Hubungan dengan alam penyesuaian
10.    Kebudayaan ekspresif

Ciri masyarakat modern antara lain
1.       Menjaga waktu
2.       Orientasi pada masa depan
3.       Dinamik, mobilitas
4.       Toleran
5.       Terbuka
6.       Orientasi status berdasarkan prestasi (achievement)
7.       Loyalitas pelingkup (negara, kedinasan dan profesi)
8.       Organisasi non pribadi (ikatan kepentingan, atau berorientasi tujuan),
9.       Organisasi besar atau efisiensi
10.   Hubungan non pribadi atas dasar masalah (lugas)
11.   Persoalan ditimbulkan manusia dapat diatasi oleh manusia
12.   Hubungan dengan alam menguasai atau setidak-tidaknya mengatur

Kebudayaan progresif Secara rinci disebutkan bahwa ciri-ciri orang modern menurut Inkeles (1973:342) antara lain:
1.      Terbuka pada pengalaman baru;
2.      Peningkatan kemandirian dan otoritas figur tradisional.
3.      Kepercayaan terhadap kualitas ilmu pengetahuan dan pengobatan.
4.      Memiliki ambisi untuk dirinya sendiri maupun anak-anaknya untuk mencapai pekerjaan dan pendidikan yang tinggi.
5.      Menyukai kecepatan waktu dan perencanaan dan hati-hati.
6.      Menunjukkan minat yang kuat dalam kegiatan komunitas dan politik lokal, serta berperan aktif.
7.      Selalu mengikuti berita-berita hangat.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWquiXIcrQt4cX3LTDG61IMmlIluym6iR7HSKhfwJnITGJjgCxfuRf_xToJSjMlnBBLvzl3jYkdgfFicG11xc0F2pcg-UYg14q5vR4CPHWGaFkQGpvsSwxE0LBPYIZBiJE2NijKDVBd7Y/s320/RevolusiIndustri-1.jpg

UNSUR-UNSUR INDUSTRIALISASI
(1)    Masyarakat yang melakukan proses produksi dengan menggunakan mesin;
(2)    Berskala besar;
(3)    Pembagian kerja teknis yang relatif kompleks; dan
(4) Menggunakan tenaga kerja yang keterampilannya bermacam-macam.

Industrialisasi pada suatu masyarakat berarti pergantian teknik produksi dari cara yang masih tradisional ke cara modern, yang terkandung dalam revolusi industri. Dalam hal ini terjadi proses transformasi, yaitu suatu perubahan masyarakat dalam segala segi kehidupannya (Dharmawan).

DAMPAK PERMASALAHAN DI DUNIA INDUSTRI
a.       Sosial
  • Kelas, Gender, dan Konsumsi
Posisi sosial telah membuat perbedaan yang besar mengenai bagaimana individu dapat termasuk kedalam budaya konsumerisme, oleh karenanya menjadi penting untuk memahami signifikansi dari kelas dan gender. Produsen amat bergantung kepada daya beli konsemen demi kelangsungan usaha mereka. Daniel Bell menyatakan bahwa konsumsi masyarakat bangkit pada awal 1920-an, selanjutnya pengembangan ini diatribusikan pada revolusi teknologi dan pada tiga penemuan sosial, yakni produksi lini gabungan, pengembangan pasar, dan penyebaran pembelian. Berikutnya adalah terjadinya pergeseran nilai moral, yakni bagaimana angsuran yang semula identik dengan kaum miskin dan hutang kemudian bertransformasi menjadi kredit yang dapat diterima masyarakat.
Selanjutnya Victoria de Grazia dalam The Sex of Thing (1996) mengungkapkan bagaimana konsumsi difilterisasi oleh rumah tangga. Ia melihat bahwa pengalaman-pengalaman dalam rumah tangga membawa dampak yang kompleks ketika kelas dan gender mendorong terjadinya konsumsi. Selain itu de Grazia melihat bagaimana posisi status digabungkan dengan kelas dan gender terkadang merupakan konfigurasi ulang dibawah rezim baru budaya konsumsi. Semenjak revolusi industri, para wanita dalam perannya di keluarga menjadi lebih condong kepada aktifitas konsumsi, de Grazia menyatakan bahwa konsumsi secara fundamental digenderkan pada wanita.
  • Konsumsi dan Globalisasi
Revolusi konsumsi yang semula terjadi di dunia Barat akhirnya menyebar ke penjuru dunia yang lain. Hal ini dikarenakan antara lain oleh pemahaman masyarakat terhadap budaya konsumen dominan yang meningkat, selain itu mereka menjadi ajang kepentingan transisi barat akan kapitalisme konsumen massa.
Negara-negara di Asia Timur dan Asia Tenggara mengalami pertumbuahan ekonomi yang pesat dan bermula pada awal 1960-an. Dalam kasus Korea Selatan, dapat dilihat adanya perbedaan pandangan antar generasi terhadap konsumerisme. Sedangkan Indonesia, dikarenakan tingkat perkembangan yang lambat, membuang sisi simbolis dari konsumsi kedalam bentuk yang lebih jelas. Solvay Gerke melihat bagaimana keterbatasan kemampuan pada kelas menengah untuk melakukan konsumsi dalam bentuk yang dapat dilihat dari status yang ditunjukkan. Gerke melihat bagaimana gaya hidup dan simbol-simbol mempengaruhi aktifitas mereka. Dengan gaya hidup tersebut, mereka menafikan asumsi sosial dan ekonomi mereka.
b.      Psikologis
Industri secara langsung maupun tidak langsung akan membentuk suatu peranan yang dimainkan oleh para pelaku industrialisasi, baik fisik maupun psikisnya. Dengan adanya industrialisasi kehidupan di masyarakat berkembang dalam segala aspek kehidupan baik ekonomi maupun sosialnya, karena terciptanya berbagai kemudahan-kemudahan yang di peroleh menuju perubahan hidup yang cenderung ke arah modernisasi, maka tidak heran jika banyak terjadi perubahan pola kehidupan antara jaman dulu dan sekarang.
Dengan adanya fenomena itu juga akan berpengaruh terhadap kondisi psikologis. Apalagi dalam peristiwa industrialisasi ini, semakin banyak perusahaan perindustrian yang didirikan, yang memperkerjakan tenaga kerja yang tidak sedikit jumlahnya, dan intensitas waktu kerja yang lama, seolah tidak pernah tidur.
Hal ini bila dikaitkan dengan dampak psikologis akan sangat berhubungan, dilihat dari banyaknya karyawan yang ada dalam suatu perindustrian, seolah-olah waktu hanya dihabiskan di dalam pabrik. dampak yang akan terjadi adalah pada keadaan psikologis keluarga, terutama pada anak, yang seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih tetapi karena waktu yang sangat sedikit untuk berkumpul di rumah, sedikit banyak akan mempengaruhi kepribadian keluarga terutama anak.
Dalam jaman perindustrian sekarang ini sadar atau tidak akan berpengaruh pada pergeseran nilai-nilai dan membuat masyarakat sekarang kurang peduli dengan itu, karena tersitanya waktu untuk bekerja untuk menyempatkan berkegiatan pemupukan nilai-nilai yang ada, akibatnya masyarakat lupa dan bersikap acuh tak acuh dalam kalangan masyarakat perindustrian.

c.       Hukum
Keengganan pemerintah melakukan intervensi langsung ke dalam kegiatan industri mirip dengan keengganan yudikatif untuk melibatkan diri secara langsung ke dalam lapangan industri. Wedderborn (1966, hal 13) menyatakan bahwa pihak hukum baru mau melibatkan diri jika pihak perusahaan berbuat suatu tindakan, dimana pihak lain di luar perusahaan merasa dirugikan oleh tindakan tersebut. Alasan lain yang menyebabkan keengganan pihak hukum melibatkan diri adalah telah terbentuknya suatu perjanjian bersama antara perusahaan industri dengan serikat-serikat buruh sehingga kalau ada permasalahan diantara mereka hal itu akan diselesaikan dengan cara-cara yang tercantum dalam perjanjian tersebut.

d.      Ekonomi
Perkembangan dalam sektor industri telah berkembang pesat dan telah mengubah sebagian besar kehidupan kita, telah terjadi banyak perubahan dalam kehidupan kota, sistem komunikasi dan transportasi dan munculnya berbagai barang konsumsi yang menambah kenyamanan hidup,
Tetapi tidak selamanya, industrialisasi menyebabkan banyak kenyamanan dan kesejahteraan hidup, seperti dinyatakan oleh Ine Minara mengingatkan bahwa industrialisasi yang berjalan dengan baik dapat memberi stimulasi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Kalau kita lihat kondisi sekarang, meningkatnya peran sektor industri dan sektor lain dalam P D B (Product Distribution Bruto) diikuti dengan menurunnya peran, kualitas maupun produktivitas sektor pertanian. Maka industrialisasi tidak dapat dikatakan berhasil ketika kegagalan justru tergantung akan menyebabkan pasokan pangan bagi penduduk kota terjadi karena hal tersebut. Jika produktivitas pangan rendah dan kebutuhan pangan sendiri tidak dapat terpenuhi, dan bergantung pada impor,  jelas hal ini menyebabkan tingkat  pertumbuhan rendah atau pertumbuhan tidak berkualitas. Apabila suatu negara mengimpor kebutuhan pangannya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, maka pendapatan perkapita yang meningkat di negara tersebut akibat dari industrialisasi, maka akan terjadi multiplier efect di luar, bukan di wilayah perekonomian negara tersebut, sehingga peningkatan pendapatan dan produktivitas justru digunakan untuk membiayai impor pertanian.
Industrialisasi    yang berhasil mensyaratkan adanya kenaikan yang signifikan dari produktivitas pertanian. Satu kesalahan besar dari proses industrialisasi di Indonesia adalah bahwa sektor pertanian ditinggalkan yang menyebabkan produktivitas sektor pertanian rendah. Secara konsep memang disebutkan bahwa pembangunan industri ditopang oleh pembangunan pertanian. Meskipun pernah mencapai swasembada beras akan tetapi akses dari kebijakan dalam rangka mencapai swasembada beras tersebut mengorbankan banyak hal dan sektor pertanian tumbuh tidak kokoh dan produksi pertanian tidak cukup untuk memasok kebutuhan pangan. Selain itu, hasil pertanian lain di luar beras yang dibutuhkan oleh sektor industri masih diimpor seperti kedelai, jagung dan lain sebagainya. Di sisi lain hasil pertanian Indonesia dalam bentuk komoditas seperti CPO, kakau, masih diekspor dalam bentuk yang mentah atau tidak diolah. Dalam sisi industrialisasi hal tersebut adalah kemunduran, sebab industrialisasi yang maju mensyaratkan ekspor pangan olahan.
Jadi perkembangan industrialisasi dalam bidang ekonomi sering kali tidak diimbangi dengan perkembangan produksi pangan Negara, sehingga hasil keuntungan dari kegiatan industri sering kali digunakan untuk membiayai impor bahan pangan Negara, karena hasil pertanian pangan menjadi rendah.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5deogQWvHDhWUf3zPrnAEygLmzbaDS5NRTsF7rREBC-oJOekSTzyM0F0b6hjAsceK8A2pzuOH_PeIODQunLepBLmUN_3PdetixL-8hRFKtTqjhBF4qxdEDbqCaV6vyVGzpgn_EU2oSzk/s320/rokok.jpg

e.       Demografi
Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu. (wikipedia).
Munculnya kawasan industri dalam suatu wilayah dianggap membawa faktor positif dan negatif bagi kehidupan masyarakat di wilayah itu.
Dampak positifnya antara lain :
1.      Kehadiran industri dapat membuka lapangan kerja bagi penduduk setempat;
2.      Membuka lapangan kerja di bidang sektor informal;
3.      Menambah pendapatan asli daerah bagi daerah tersebut.

Adapun dampak negatifnya ialah:
1.      Menimbulkan kebisingan, polusi, dan limbah industri yang berbahaya bagi lingkungan;
2.      Persentuhan budaya yang bisa menimbulkan berbagai masalah sosial.


TUGAS II KEWIRAUSAHAAN

TUGAS II
 KEWIRAUSAHAAN

NAMA                       : ALFI NUGROHO
NPM                           : 30412604
KELAS                      : 4ID08
MATA KULIAH      : SOFTSKILL KEWIRAUSAHAAN


Pengoganisasian diartikan sebagai kegiatan pembagi tugas-tugas pada orang yang terlibat dalam kerja sama di dalam sebuah kelompok. Kegiatan pengorganisasian menentukan siapa yang akan melaksanakan tugas sesuai prinsip pengorganisasian. Sehingga pengorganisasian dapat disebut sebagai keseluruhan proses memilih orang-orang serta mengalokasikannya sarana dan prasarana untuk memunjang tugas orang-orang itu dalam organisasi dan mengatur mekanisme kerjanya sehingga dapat menjamin pencapaian tujuan. Efesiensi dalam pengorganisasian adalah pengakuan terhadap kelompok-kelompok pada penggunaan waktu dan uang dan sumber daya yang terbatas dalam mencapai tujuan, yaitu alat yang diperlukan, pengalokasian waktu, dana dan sumber daya manusia. Tujuan Perencanaan Organisasi yaitu membentuk usaha yang terkoordinasi dalam organisasi adalah Tujuan Perlindungan (Protective) yaitu meminimalkan resiko dengan mengurangi ketidakpastian disekitar, dan menjelaskan konsekuensi dari tindakan yang akan diambil. Kemudian Tujuan Kesepakatan (Affirmative) yaitu meningkatkan tingkat keberhasilan dari organisasi tersebut.

Menurut henry fayol mengemukakan enam belas garis pedoman umum ketika mengorganisasikan sumber daya yaitu, Division of Work atau Spesialisasi pekerjaan kepada individu individu dalam lingkaran manajemen untuk membangun sebuah pengalaman dan terus mengasah keahliannya sehingga pada akhirnya individu individu tersebut bisa menjadi lebih produktif dan menguntungkan. Terlebih lagi dengan kemampuan manusia yang memiliki banyak keterbatasan mengenai pengetahuan, kebutuhan waktu, dan perhatian sehingga keterbatasan keterbatasan ini bisa dijalankan oleh individu individu yang memiliki kemampuan untuk itu. Authority and Responsibility atau Wewenang dan Tanggung Jawab Wewenang dan pertanggung jawaban, kedua prinsip manajemen ini adalah kunci didalam melaksanakan roda usaha kerja sama. Bukan tanpa sebab, karena tanpa prinsip ini para manajer tidak akan bisa mengadakan suatu hubungan ke atas ataupun kebawah. Harus ada suatu kekuasan dalam memberi perintah dan sesuatu kekuatan yang bisa membuat manajer ditaati. Pertanggungjawaban akan timbul oleh adanya kekuasaan tersebut. Keduanya harus dalam kondisi yang seimbang dan tidak ada kekuasaan tanpa tanggungjawab, dan begitupun sebaliknya. Tanggung jawab terbesar ada pada manajer puncak. Kegagalan adalah terletak pada pucuk pimpinan, bukan pada karyawan yang berada dibawah karena pihak yang memiliki wewenang terbesar adalah para puncak manajer. Maka dari itu, jika seorang pucuk pimpinan tidak memiliki keahlian dan sifat kepemimpinan, maka wewenang yang ada bisa menjadi boomerang yang merugikan. Discipline atau Disiplin sangat berhubungan dengan wewenang. Jika wewenang tidak bisa berjalan dengan semestinya, maka bisa jadi disiplin akan hilang. Maka, pemegang wewenang setidaknya harus bisa menanamkan rasa disiplin terhadap diri sendiri sehinggan nantinya memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan yang sesuai dengan wewenang yang dimiliki. Disiplin mencakup kesungguhan hati, kerajinan, ketaatan, kesiapan, persetujuan, kebiasaan, tata krama antara organisasi tersebut dengan warganya. Unity of Command atau Kesatuan Perintah Kesatuan perintah adalah sebuah prinsip dimana perintah yang diterima bawahan tidak diperbolehkan untuk diberikan oleh lebih dari seorang petugas yang ada di atasnya. Dalam melaksanakan pekerjaan, para karyawan harusnya memperhatikan prinsip prinsip kesatuan perintah supaya pekerjaan bisa dilaksanakan secara baik. Tiap karyawan harus mengetahui kepada siapa dia harus bertanggungjawab yang sesuai dengan kewenangan yang didapatnya. Perintah yang diterima dari manajer yang lain kepada karyawan yang sama bisa mengakibatkan rusaknya wewenang dan tanggungjawab serta pembagian kerja. Untuk itu, pekerja harus memiliki hanya satu atasan tanpa ada perintah dari yang lain yang bisa jadi sangat bertentangan. Unity of Direction atau Kesatuan Pengarahan merupakan prinsip manajemen yang mengatakan setiap golongan pekerjaan yang memiliki tujuan yang sama, harus memiliki satu rencana dan dipimpin oleh satu manajer saja. Bisa dibedakan, dengan "unity of command" yang berhugunban dengan jalannya fungsi personalia sedangkan unity of direction berhubungan dengan struktur. Didalam melakukan tugas dan tanggung jawab, pekerja perlu diarahkan pada sasarannya. Kesatuan pengarahan ini sangat berhubungan erat dengan pembagian kerja. Subordination of Individual Interest to General Interest atau Subordinasi Kepentingan Perseorangan terhadap Kepentingan Umum Prinsip manajemen yang ini menyatakan bahwa tiap karyawan harus mengabdi kepentingan pribadi kepada kepentingan perusahaan atau organisasi. Prinsip ini seperti berupa syarat yang penting supaya aktivitas berjalan dengan baik dan lancar. Prinsip ini terjadi jika karyawan mempunyai kesadaran bahwa kepentingan pribadinya sebenarnya bergantung pada keberhasilan atau tidaknya kepentingan organisasi. Prinsip manajemen ini bisa terwujud jika karyawan merasa senang dan nyaman dalam bekerja. Dalam prinsip ini intinya kepentingan kelompok harus bisa mengatasi kepentingan individu, Jika subordinasi ini mengalami gangguan, maka disini diperlukan manajemen untuk mendamaikan. Remunerasi atau Penggajian Pegawai Prinsip manajemen ini menurut Henry Fayol adalah pembayaran upah serta cara pembayaran yang adil serta memberi kepuasan yang maksimal untuk pegawan dan majikan. Dengan menggunakan sistem upah atau gaji yang memuaskan nantinya bisa merangsang pegawan untuk bisa bekerja lebih rajin lagi. Centralization atau Pemusatan adalah prinsip manajemen yang menyatakan seluruh organisasi harus bisa berpusat, harus memiliki pusat. Prinsip ini harus bisa menunjukkan hingga batas mana kewenangan itu dipusatkan ataupun dibagi pada suatu organisasi. Pemusatan kewenangan bisa menimbulkan pemusatan tanggung jawan pada sebuah aktivitas. Tanggung jawab yang terakhir dan terbesar berada pada orang yang memegang kewenangan tertinggi atau pucuk pimpinan manajer. Prinsip pemusatan bukan berarti ada kekuasaan untuk mempergunakan kewenangan, tapi untuk menghindari adanya simpang siur kewenangan dan tanggung jawab. Prinsip manajemen pemusatan ini juga tidak bisa menghilangkan asal pelimpahan kewenangan. Chain of Command atau Rangkaian Perintah Hierarki merupakan prinsip manajemen yang mengharuskan perintah dari atas kebawah harus selalu mengambil jarak yang terdekat. Hierarki ini dibutuhkan untuk kesatuan arah perintah. Rantai perintah ini mengacu kepada jumlah tingkatan yang ada pada hierarki dari otoritas tertinggi sampai tingkat yang paling rendah pada sebuah organisasi. Garis otoritas jaraknya tidak boleh terlalu jauh. Order atau Ketertiban Prinsip manajemen ini bisa jadi adalah syarat yang utama karena pada umumnya tidak ada orang yang dapat bekerja pada keadaan kejang atau kacau. Ketertiban pada suatu pekerjaan bisa terwujud jika semua karyawan memiliki disiplin dan ketertiban yang tinggi. Equity atau Keadilan menurut Henry Fayol dianggap sesuatu yang bisa memunculkan kesetiaan dan ketaatan karyawan dengan cara mengkoordinasikan keadilan dan kebaikan para manajer didalam memimpin para bawahan dan memicu tumbuhnya rasa tunduk kepada kekuasaan dari atasan. Menurut Atmosudirdjo, Keadilan merupakan realisasi dari sesuatu yang telah tetap. Kewajaran membutuhkan banyak pikiran sehat, pengalaman dan kebaikan hati. Umumnya, karyawan menuntuk diperlakukan dengan wajar, mendapat apa yang telah menjadi haknya. Prinsip ini mutlak diperlukan karena menuntut manajemen untuk memperlakukan bawahan dengan baik. Stability of Tenur of Personel atau Stabilitas Masa jabatan dalam Kepegawaian Perputaran karyawan yang tinggi bisa menyebabkan ongkos yang tinggi dalam produksi, untuk itulah prinsip ini dijalankan. Karyawan akan bekerja dengan lebih baik apabila mendapat stimulus keamanan pekerjaan dan jenjang karir yang pasti. Butuh waktu untuk seorang pekerja agar bisa menyesuaikan diri terhadap jabatan atau fungsinya yang baru serta untuk menunaikan tugas dengan baik. Inisiative atau Prakarsa Inisiatif merupakan prinsip manajemen yang menyatakan seseorang kepala harus pintar dalam memberikan inisiatif. Inisiatif muncul dari dalam diri seorang yang mempergunakan daya pikir. Inisiatif memunculkan kehendak untuk mewujudkann sesuatu yang bernilai guna bagi penyelesaian pekerjaan dengan cara yang sebaik baiknya. Pada Prakarsa ini terhimpun perasaan, kehendak, pikiran, keahlian serta pengalaman seseorang yang nantinya akan di realisasi. Setiap prakarsa atau inisiatif yang datang hendaknya harus dihargai setinggi tingginya bila inisiatif tersebut memberikan nilai manfaat yang luar biasa bagi organisasi sehingga karyawan yang memberi inisiatif tersebut dan juga manajemen akan mendapatkan kepuasan serta materi yang setimpal. Esprit de Corps atau Semangat Kesatuan Esprit de Corps atau kesetiaan kelompok merupakan prinsip manajemen dimana setiap pegawai harus mempunyai rasa kesatuan senasib sepenangungan yang bisa menciptakan semangat kerja sama yang lebih baik. Semangat kesatuan ini bisa muncul jika tiap tiap karyawan memiliki kesadaran bahwa tiap pekerja berarti bagi pekerja yang lain dan pekerja lain sangat diperlukan oleh dirinya. Manajer yang mempunyai jiwa kepemimpinan akan bisa memunculkan semangat kesatuan ini. Sebaliknya, jika manajer tidak memiliki kepampuan, bisa berakibat perpecahan.
Keuntungan dan kerugian pembagian tenaga kerja yaitu Keuntungan Pekerja berspesialisasi dalam tugas tertentu sehingga keterampilan dalam melaksanakan tugas tersebut meningkat, Tenaga kerja tidak kehilangan waktu dari satu tugas ke tugas yang lain, Pekerja memusatkan diri pada satu pekerjaan sehingga pekerjaan lebih mudah dan efisien, Pekerja hanya perlu mengetahui bagaimana melaksanakan bagian tugas, bukan keseluruhan proses. Sedangkan Kerugian yaitu Pembagian kerja hanya dipusatkan pada efisiensi dan manfaat ekonomi yang mengabaikan variabel manusia dan Kerja yang terspesialisasi cenderung menjadi sangat membosankan dengan tingkat produksi menurun
Perintah manajer yang akan diterima dalam jangka panjang makin banyak. Berikut adalah hal-hal mengenai perintah manajer menurut Chester Bernard adalaha Saluran formal dari komunikasi digunakan oleh manajer dan dikenal semua anggota organisasi, Tiap anggota organisasi menerima saluran komunikasi formal, Lini komunikasi antar manajer bawahan bersifat langsung, Rantai komando yang lengkap, Manajer memiliki keterampilan komunikasi yang memadai, Manajer menggunakan lini komunikasi formal hanya untuk urusan organisasi, Suatu perintah secara otentik berasal dari manajer.